"Jurnalistik Itu Menyenangkan" (Menuju Medali Emas LKJS 2015, Bagian 2)


Cerita sebelumnya: Tim jurnalistik S'Detik SMP SMART Ekselensia Indonesia menjadi finalis Lomba Karya Jurnalistik Siswa Nasional (LKJS) 2015. Dengan dukungan berbagai pihak, mereka menuju Surakarta, Jawa Tengah, lokasi final kegiatan ini.

Kami langsung bergegas mendaftarkan diri di Hotel Sunan Solo, yang disiapkan panitia. Malam itu juga kami bertemu peserta lain dari seluruh Indonesia saat acara pembukaan. Kami jadi tahu bahwa satu tim finalis ternyata batal datang ke Surakarta ini, entah karena apa. Mungkin karena tidak diizinkan meninggalkan UTS yang sedang berlangsung. Mungkin, lhooo...

Malam itu, (dan malam2 berikutnya) melalui telepon genggam asrama yang dipinjamkan kepada kami, pembimbing kami sempat mengirim pesan tertulis menanyakan kabar kedatangan dan pembukaan. Sayang pesan itu tak bisa kami jawab, karena telepon yang kami bawa tidak ada pulsanya, hehe...

Kami segera beristirahat karena lelah. Hari berikutnya, Selasa (6/10) adalah jadwal presentasi buletin yang telah kami kirimkan. Presentasi ini dilakukan di dalam ruang tertutup di hadapan dewan juri. Satu per satu tim dipanggil sesuai giliran yang sudah ditetapkan. Tahu tidak, kami dapat giliran ke-36 dari 38 finalis. Tentu lama kami menunggu, rasa grogi dan tak sabar menyelimuti kami selama menanti.

Akhirnya giliran kami tiba! Sebelumnya diperkirakan presentasi akan berlangsung 10 menit, dilanjutkan pertanyaan dari dewan juri. Namun, tampaknya para juri sudah cukup lelah dan bosan saat giliran kami tiba, sehingga presentasi kami berjalan cukup singkat.

Usai presentasi, kami diberitahu bahwa besok setiap tim harus
memproduksi sebuah buletin mini berdasar kegiatan yang akan dilaksanakan. Hal ini memang sudah disampaikan pembimbing kami saat pembekalan, mengingat kami telah diminta menyiapkan komputer jinjing dan kamera sebelum berangkat.

Hari ketiga, Rabu (7/10), para peserta diajak mengunjungi beberapa lokasi di kota Surakarta, di antaranya gedung Monumen Pers Nasional dan sebuah kampung sentra kerajinan tradisional. Kami mengamati berbagai hal menarik, melakukan wawancara, dan mengambil foto di tempat yang kami kunjungi. Sesampai kembali di hotel, kami diberi waktu hingga jam tertentu di malam hari untuk segera menuangkan pengalaman kami dalam buletin mini.
Banyak tim yang belum berhasil menyelesaikan tugas ini pada malam itu, demikian juga tim S'Detik. Kami benar-benar merasakan beratnya kehidupan jurnalis yang harus bekerja keras di bawah tekanan tenggat demi bisa menyelesaikan berita yang bermutu bagi masyarakat. Kami juga ingat pengalaman kami di sekolah sebelumnya, saat bersama teman-teman ditunggui hingga malam hari oleh pembimbing kami untuk menyelesaikan majalah dinding Duabelasdetik hingga bisa dipasang untuk dibaca warga SMART EI. Tak heran jika perasan kami bertiga malam itu sangat emosional dan serasa diliputi "tegangan tinggi". Karena itu, betapa lega hati kami saat panitia mengumumkan bahwa karya yang belum selesai bisa dilanjutkan esok paginya setelah sarapan.
Seperti tim lain, pagi hari Kamis (8/10) itu, kami begitu bersemangat menyelesaikan karya buletin empat halaman kami. Judul laporan utama kami adalah "Jurnalis Berbudaya" Alhamdulillah, sebelum batas waktu pukul 11.30 pagi itu, kami berhasil mengumpulkannya kepada panitia.

Tiba saat kami untuk berusaha tenang menunggu hasil penilaian dewan juri atas karya-karya kami. Saat itu kami sudah berkenalan dengan teman-teman dari beberapa tim lain. Ada yang berasal dari Sumatera, atau Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kami saling berbagi cerita dan pengalaman menjalankan kegiatan jurnalistik di sekolah masing-masing, juga bertukar karya.

Malam itu semua peserta kembali berkumpul di ballroom hotel untuk acara pengumuman pemenang dan penutupan acara. Akan ada 15 tim yang akan menerima medali emas, perak dan perunggu sebagai pemenang LKJS 2015. Satu per satu pemenang dipanggil mulai dari juara harapan. Harapan kami mulai melambung.
Jantung kami makin berdebar saat makin banyak pemenang medali dipanggil maju ke panggung menerima hadiah. Sudah empat belas tim maju, dan perasaan kami mulai tak menentu, saat akhirnya nama buletin penerima gelar juara 1 utama disebutkan oleh pembawa acara. "SDetik dari SMP SMART Ekselensia Indonesia, Bogor."
Dengan perasaan setengah tak percaya, kami naik ke atas panggung, diiringi tepuk tangan pengunjung ruang luas itu. Iya, rupanya nama buletin "S'Detik" kami dibaca berbeda oleh panitia. Tidak apa-apa, yang penting kami berhasil! Tentu kami begitu gembira dan bahagia. Sebagai juara 1 utama, kami juga mendapat predikat peserta terbaik dalam kategori tulisan opini, tata letak dan fotografi. Kami menerima medali emas, piala dan uang pembinaan 15 juta rupiah (sebelum dipotong pajak).

Kami pun teringat semua jerih payah di klub jurnalistik selama satu tahun ini. Semua pelatihan ekskul dan praktik jurnalistik di lapangan bersama teman-teman dan kakak senior; bimbingan dan doa orang tua dan guru-guru kami, ternyata berbuah manis. Tak lupa dukungan dan kepercayaan para donatur yang tidak pernah kami temui, yang memungkinkan kami belajar di sekolah hebat, SMART Ekselensia Indonesia.

Akhirnya kami menuju kamar tidur dengan senyum terulas di bibir. Kami masih sempat memanfaatkan jaringan wi-fi hotel untuk menyebarkan kabar gembira ini melalui akun media sosial kami. Walau sudah lewat tengah malam, Syahrizal juga masih sempat "chatting" dgn pembimbing kami di Jakarta mengabarkan keberhasilan dan rencana kepulangan ke Bogor esok harinya. Padahal, kalau bisa, kami masih ingin berkeliling dulu menjelajah kota Solo atau Surakarta, kali ini tanpa beban karena tugas mewakili klub jurnalistik telah sukses kami tunaikan. Sayang di Bogor sana kami telah dirindukan oleh guru-guru kami bersama dengan soal-soal UTS :D

Jumat pagi (9/10), kami telah selesai berkemas, dan segera menuju Stasiun Solo Balapan, menaiki kereta Argo Lawu menuju Jakarta. Kereta bergerak sesuai jadwal, membawa kami meninggalkan kota Solo yang penuh kenangan. Benar, seperti tulisan opini yang dibuat oleh Putra pada SDetik edisi 6, kegiatan jurnalistik itu menyenangkan!

Mohon kembali doa dan dukungan agar karya klub jurnalistik S'Detik bisa berlaga kembali pada final LKJS 2016... -Nashrul Azmi, Putra Ramadhan, Syahrizal Rachim- #Terkabul2015

+DUA BELAS DETIK - NASHRUL AZMI, PUTRA RAMADHAN, SYAHRIZAL-