"Asa Baru Jurnalis Muda SMART EI" (Menuju Medali Emas LKJS 2015, Bagian 1)

Untuk kali kedua, SMP SMART Ekselensia Indonesia mengirim karya tim jurnalistik S'Detik mengikuti Lomba Karya Jurnalistik Siswa (LKJS) tingkat nasional. Keikutsertaan pada kegiatan tahun ini ternyata berbuah manis: meraih juara 1 utama. Inilah kisah perjuangan meraih predikat tersebut.
Masih teramat dini saat itu, Senin (5/10) di kampus SMART EI. Namun dari arah asrama, empat sosok berjalan menuju lapangan parkir di depan sekolah. Ustad July Siswanto, kepala SMART EI, mengantar saya -Nashrul Azmi- dan dua rekan saya, Syahrizal Rachim dan Putra Ramadhan, memasuki mobil yang dikendarai ustad Neming. Sekitar pukul dua pagi itu, saat hampir seluruh teman kami tertidur bersama mimpi tentang soal-soal Ulangan Tengah Semester, kami membelah jalan dari Bogor menuju Bandung, ibukota Jawa Barat.

Saya, Rizal dan Putra, saat ini duduk di kelas 9 SMP SMART Ekselensia Indonesia. Kami bertiga adalah utusan dari S'Detik, klub jurnalistik SMART EI yang sudah berdiri sejak tahun 2012. Salah satu produk jurnalistik klub kami adalah buletin tiga bulanan S'Detik. Edisi nomor 6 buletin ini kami terbitkan bulan Mei 2015 untuk berpartisipasi dalam Lomba Karya Jurnalistik Siswa (LKJS) SMP tingkat nasional yang diadakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Laporan utama kami di edisi tersebut bertajuk "Asa Baru Jurnalis Muda."

Alhamdulillah, sebuah surat pemberitahuan dari panitia bertanggal 28 September 2015, tiba di sekolah awal Oktober, menyatakan bahwa S'Detik menjadi salah satu dari 39 finalis LKJS tahun ini.

Isi surat itu membuat kami sibuk bersiap sejak Kamis (1/10). Sebenarnya ada sembilan anggota redaksi S'Detik dalam buletin ini. Selain kami bertiga, ada Alfan Hakim, Lazuda Ramdhan Destian, M Fadhlullah Ramadhan, M Fajrul Iman, M Indra Triarie Saputra, dan M Irhas Esa Wisnu. Kami semua siswa kelas 9 SMP SMART EI.

Namun panitia hanya mengundang dan menanggung akomodasi serta transportasi tiga siswa dari tiap sekolah ke lokasi final di kota Surakarta, Jawa Tengah. Dengan kesepakatan anggota redaksi, maka kami yang berangkat, dengan tugas Rizal sebagai pemimpin redaksi, Putra sebagai penata letak buletin, dan saya sebagai reporter.
Bicara tentang persiapan mengikuti LKJS ini, kami sudah memulainya jauh-jauh hari. Belum berhasilnya kakak kelas kami masuk putaran final lomba yang sama tahun 2014 lalu, telah kami evaluasi bersama para senior tersebut serta pembimbing kami, ustadzah Vera Darmastuti. Dengan memerhatikan tema tentang "jurnalisme pelajar", tahun ini kami mengisi buletin dengan bersemangat, karena sepanjang semester lalu banyak kegiatan bertema jurnalistik di sekolah.

Begitu menjadi finalis, persiapan kami lebih serius. Pembimbing kami meminta kami menyiapkan slide presentasi tentang isi buletin yang kami kirim ke panitia; juga slide presentasi tentang klub jurnalistik dan SMART EI, kalau-kalau nanti ditanya oleh juri.

Rangkaian kegiatan LKJS ini berlangsung tanggal 5-9 Oktober 2015. Terbayang, kan betapa kami merasa dikejar tenggat. Ustadzah Vera menetapkan, hari Minggu sebelum kami berangkat, presentasi kami harus sudah beres agar bisa diberi masukan.

Selain slide presentasi, kami menyiapkan semua keperluan lomba, di antaranya mengurus formulir pendaftaran peserta; meminta izin tidak mengikuti UTS selama kami berlomba; meminjam komputer jinjing dan kamera foto milik sekolah; serta pakaian dan perlengkapan pribadi kami.

Sehari sebelum hari H, kami sudah hadir di ruang komputer sekolah, siap melatih presentasi kami. Ternyata ustadzah Vera juga mengundang empat anggota senior klub jurnalistik yang sekarang sudah menjadi siswa SMA, yaitu Kak Ade Putra, Kak Kabul Hidayatulloh, Kak Rizky Dwi Satrio, dan Kak Ikrom Azzam. Mereka berlima menjadi "juri" yang memerhatikan dan menanyakan berbagai hal terkait isi presentasi. Dari cara berjalan, cara memperkenalkan diri, serta urutan isi dan teknis produksi buletin, dikritisi oleh "dewan juri" ini. Kami cukup deg-degan, namun masukan yang diberikan ternyata sangat membantu kami dalam final sebenarnya.
Begitulah. Atas masukan yang diberikan, kami memperbaiki slide dan cara membawakan presentasi. Setelah waktu ashar, kami bersiap merapikan barang bawaan kami di asrama.

Waktu berjalan hingga kami dibangunkan guru asrama kami, untuk selanjutnya mengarungi dinginnya udara pukul dua pagi menuju Bandung. Di sana kami akan "dititipkan" oleh ustad July kepada Bapak Rukmanta, pendamping yang ditugaskan oleh Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat menemani kami ke Surakarta.

-Nashrul Azmi- #Terkabul2015
(bersambung)

+DUA BELAS DETIK - NASHRUL AZMI-